Buktikan

Hetalia: Axis Powers - Sealand

Minggu, 08 Desember 2013

Laporan PKL


Identifikasi Parasit pada Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar


NAMA                          : REZKY NURHIDAYAH
PEMBIMBING           : Nurdin K, S. St.Pi, M. Si dan Ari Kusuma W, S.St.Pi
ABSTRAK                 :
           

                Di Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar (BBKIPM), dalam Pengidentifikasian Parasit pada Kepiting Bakau (Scylla serrata)ada 2 pemeriksaan yaitu pemeriksaan secara konvensional/makroskopis dan pemeriksaan secara laboratoris/mikroskopis. Jenis  parasit yang menginfeksi Kepiting Bakau (Scylla serrata) selama mengikuti Lapang Praktik Kerja (PKL) yang diidentifikasi adalah Octolasmis muelleri, Octolasmis sp, Zoothamnium sp, Ascarophis sp, Chilodonella spp, Epistylis sp dan  Amyloodinium sp.

Pendahuluan

A. Latar Belakang
            Peningkatan arus lalu lintas perdagangan komoditi perikanan belakangan ini tidak bisa dihindari lagi. Perdagangan bebas dirasakan dampaknya. Terlebih lagi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, hubungan antar negara hampir tiada batas. Hal ini  semakin membuka peluang kemungkinan dapat masuk dan tersebarnya hama penyakit ikan dari luar negeri dan antar area atau daerah di dalam wilayah Republik Indonesia (Alifuddin , M. 1993).
Indonesia sebagai negara maritim mempunyai potensi hasil perikanan laut yang sangat besar. Salah satu sumber daya hayati perairan bernilai ekonomis penting yang populer sebagai bahan konsumsi adalah Kepiting Bakau (Scylla serrata), hal ini ditandai dengan makin meningkatnya permintaan pasar baik domestik  maupun internasional.
Seiring dengan meningkatnya produksi hasil perikanan, baik dari kegiatan penangkapan atau budidaya, membawa konsekuensi tersendiri terutama terhadap mutu hasil perikanan. Hal ini disebabkan antara lain oleh adanya hama dan penyakit yang dapat menyerang komoditi tersebut. Oleh karena itu diperlukan penanganan yang tepat dan teliti untuk mencegah komoditi kepiting bakau ini tidak terserang berbagai hama dan penyakit yang dapat mempengaruhi kualitasnya.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat merusak kelestarian sumber daya perikanan maka sesuai dengan Undang-Undang No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, pada pasal 3 disebutkan bahwa Karantina Ikan bertujuan untuk mencegah masuknya Hama Penyakit Ikan Karantina dari Luar Negeri ke dalam wilayah Republik Indonesia. Upaya tersebut direalisasikan dalam bentuk pelaksanaan tindakan karantina atas komoditi atau media pembawa lainnya baik yang ekspor, impor maupun diantar pulaukan (domestik) melalui pelabuhan laut maupun bandara udara serta tempat pemasukan atau pemgeluaran lainnya (UU No.16 tahun 1992).
Balai Besar karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan merupakan salah satu instansi pemerintah yang berperan cukup strategis dalam pembangunan sub sektor perikanan dalam upaya peningkatan produksi maupun kelestarian sumber daya perairan. Sesuai dengan tugasnya mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit ikan karantina dari luar negeri, dari suatu area ke area lain didalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia.
Salah satu proses  penanganan yang dilakukan di Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar yaitu mengidentifikasi parasit yang menyerang komoditi perikanan yang akan dikirim dengan melakukan pemeriksaan di Laboratorium meliputi pemeriksaan secara konvensional dan mikroskopis.    
 
B. Tujuan Dan Manfaat
Praktik Kerja Lapang (PKL) ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui secara langsung proses pemeriksaan parasit pada Kepiting Bakau (Scylla serrata) dengan cara terlibat langsung dalam kegiatan pemeriksaan parasit di Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar.
Manfaat dari Praktik Kerja Lapang (PKL)  ini adalah sebagai bahan informasi dan masukan bagi siswa perikanan, masyarakat, serta para pelaku usaha budidaya Kepiting Bakau (Scylla serrata)  dalam melakukan penanganan dan pengawasan mewabahnya suatu penyakit khususnya pada komoditi Kepiting Bakau (Scylla serrata).

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pemerikasaan Contoh Uji 

1. Persiapan Alat dan Bahan
Pada Laboratorium Uji Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar, yang dilakukan sebelum pelaksanaan  pemeriksaan, terlebih dahulu dilakukan persiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk memperlancar kegiatan pemeriksaan terhadap komoditi perikanan yang akan diperiksa di laboratorium.

Peralatan yang harus disiapkan untuk pemeriksaan parasit adalah, sebagai berikut  :
a.    Dissecting set
b.    Cawan Petrie
c.    Pipet Tetes
d.    Slides Glass/Objek glass
e.    Cover Slides
f.     Miikroskop Stereo (Dissecting microscope)
g.    Mikroskop Trinokuler
h.    Nampang Bedah
i.      Penggaris
j.      Larutan Fisiologis (NaCl 0,9%) (Maravex, 1994)


Peralatan bedah yang akan digunakan harus steril dari kotoran dan bahan kimia lainnya yang dapat mengganggu dalam melakukan pemeriksaan.
Gambar . Larutan NaCl 0,9%, Cawan petri, Slide glass,dan Spoit

2. Pemeriksaan Secara Konvensional
Contoh uji yang telah diterima, selanjutnya diperiksa. Tahap pertama dengan metode konvensional. Pemeriksaan secara konvensional dilakukan dengan mengamati secara kasat mata tubuh kepiting dengan cermat dan teliti untuk memperhatikan gejala klinis yang terdapat pada tubuh kepiting khususnya pada bagian carapace, serta melihat kenormalan organ-organ dalam dan kelengkapan tubuh lainnya. Jika tidak ditemukan gejala kliniks, selanjutnya mengamati tubuh bagian dalam kepiting, khususnya pada bagian insang dan carapace dalam dengan memperhatikan parasit yang dapat dilihat dengan kasat mata yang umumnya menancap pada insang kepiting.
Gambar. Pemeriksaan secara Konvensional

Langkah-langkah Pemeriksaan secara Konvensional, antara lain :
a.    Mengamati keutuhan organ tubuh bagian luar Kepiting Bakau antara lain: kaki jalan, kaki renang, mulut, Carapace serta mengukur panjangnya (lampiran 2).
b.    Mengamati jenis kelamin kepiting, untuk kepiting jantan ditandai dengan abdomen bagian bawah berbentuk runcing sedangkan untuk kepiting betina memiliki abdomen yang melebar.
c.    Menimbang Kepiting lalu letakkan pada nampang bedah dengan posisi kepala dibagian kiri (lampiran 3).
d.    Matikan Kepiting Bakau yang masih hidup dengan segera tanpa merusak jaringan tubuh yang lain dengan cara menusuk abdomennya dengan scapel sampai kepiting tidak bergerak (lampiran 3).
e.    Membedah kepiting dengan menggunting bagian Carapacenya lalu mengerok Carapacedalam dengan scapel kemudian hasil kerokan diletakkan di atas slides yang sudah ditetesi larutan NaCl 0,9%. Begitu pula untuk Carapace bagian luar (lampiran 4).
f.     Mengamati insang kepiting ada tidaknya perubahan warna (warna insang kecoklatan) atau parasit yang dapat dilihat dengan kasat mata, jika ditemukan maka parasit diidentifikasi dan dihitung jumlahnya.
g.    Mengambil sedikit insang dengan pinset kemudian diletakkan diatas objek glass yang berisi larutan NaCl 0,9% (lampiran 6).





3.Pemeriksaan Secara Mikroskopis
Setelah pemeriksaan secara Konvensional pada organisme contoh uji, kegiatan selanjutnya adalah pemeriksaan contoh uji secara mikroskopis, yang bertujuan untuk mengidentifikasi parasit yang berukuran kecil yang tidak dapat terlihat dengan kasat mata.
Gambar Pemeriksaan Secara Mikroskopis
Langkah-langkah pemeriksaan secara mikroskopis :
a)    Preparat smear (yang berisikan karokan Carapace dalam dan Carapace luar) diamati dibawah mikroskop dan divisualisasikan (lewat monitor atau gambar).
b)    Cawang petri yang barisikan insang, diperiksa dibawah mikroskop Stereo dengan cara memegangnya dengan pinset dan menjalankan jarum tumpul pada filament insang untuk mengetahui adanya parasit serta memisahkannya dari tempat perlekatannya.
c)    Dengan menggunakan pipet, pindahkan parasit yang ditemukan ke objek glass.
d)    Parasit siap untuk difiksasi/diwarnai sesuai dengan sifatnya, untuk kemudian diidentifikasi dibawah mikroskop Trinukuler dan diukur menggunakan mikrometer.
B. Identifikasi Parasit
Identifikasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menetapkan jenis parasit yang ada pada contoh uji kepiting yg telah di periksa dengan metode konvensional dan mikroskopis sebelumnya. Identifikasi parasit dilakukan berdasarkan gambar parasit yang telah difoto pada saat proses pengamatan parasit pada mikroskop, yang kemudian di cocokkan dengan literatur panduan untuk proses identifikasi jenis parasit. Identifikasi jenis parasit dilakukan dengan sangat teliti dan cermat guna menghindari terjadinya kesalahan dalam proses identifikasi untuk menentukan jenis parasit yang terdapat pada tubuh contoh uji kepiting.
Berdasarkan hasil identifikasi jenis parasit yang ditemukan pada Kepiting Bakau (Scylla serrata) di Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar adalah sebagai berikut:
·         Pada pemeriksaan konvensional yaitu Octolasmis muelleridan Octolasmis sp.
·         Pada pemeriksaan mikroskopis yaitu :
- Acanthocephalus sp
- Amyloodinium sp
- Ascarophis sp                                                                            
- Camallanus sp
- Carchesium sp
- Chilodonella spp
- Epistylis sp
- Hysterothylacium aduncum
- Oodinium spp
-Vorticella sp
-Zoothamnium sp.

            Parasit yang menginfeksi Kepiting Bakau (Scylla serrata) selama melakukan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hassil Perikanan Makassar adalah sebagai berikut:
Tabel. Jenis parasit yang menginfeksi Kepiting Bakau (Scylla serrata) selama kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) :
No.
Jenis Parasit
Organ Infeksi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Octolasmis muelleri
Octolasmis sp
Zoothamnium sp
Ascarophis sp
Epistylis sp
Chilodonella spp
Amyloodinium sp
Insang
Insang
Insang
Karapaks, Insang
Karapaks, Insang
Karapaks, Insang
Karapaks, Insang

C. Klasifikasi dan Morfologi Parasit
1.    Parasit Octolasmis muelleridan Octolasmis Sp







                             (A)                                                                 (B)

Gambar    Parasit Octolasmis muelleri(A)dan Octolasmis sp (B) ditemukan pada Insang Kepiting bakau (sumber : hasil penelitian BBKIPM Makassar)



Klasifikasi :
Phylum                        :  Arthropoda
Class                           :  Crustacea
Ordo                            :  Decapoda
Genus                         :  Octolasmis
Spesies                       :  Octolasmis muelleri (A)
Spesies                       :Octolasmis sp (B)
Morfologi  : Bentuk tubuh seperti kecamba, memiliki alat untuk menancap kuat pada inang yang terletak pada bagian pengeluaran, berkembangbiak dengan cara bertelur.
Organ sasaran       :   ~  Insang
~  Carapace                           
~  Ekor                        
~  Mata
~ Kaki jalan                             
~  Mulut                                                 
~  Kaki renang            
~  Antena
Jenis Ikan yang diserang :       ~  Kepiting bakau      
~  Lobster
~  Udang windu
Gejala klinis :    ~  Badan kurus dan berat badan menurun
Pengendalian :    ~ Dicegah melalui tindak sanitasi yang ketat
                            ~ Menghilangkan detritus seperti sisa kista artemia
                            ~ Memberikan formalin 50 – 100 ppm selama 30 menit
                            ~  Memberikan malachite green 0,15 ppm (15 – 30 menit).
Ditambahkan oleh  Ovestreet dalam Muliani dkk (1994), bahwa Octolasmis muelleri dan Octolasmis sp adalah jenis teritip yang sangat umum menyerang insang Decapoda, dimana apabila jumlah teritip yang menyerang insang diatas 700 sel/individu akan menyebabkan sulit bernafas, karena teritip juga menyerang langsung oksigen dari insang, sehingga lama kelamaan kepiting akan mati melemas.
2. Parasit Zoothamnium sp
Gambar    Parasit Zoothamnium sp ditemukan pada Insang Kepiting Bakau ( sumber : Hasil Penelitian BBKIPM Makassar)

Klasifikasi  :
Phylum                        :  Protozoa
Subphylum                  :  Hypostomata
Class                           :  Olighomenophorea
Ordo                            :  Peritricha
Subordo                      :  Sessilina
     Family                         :  Vorticellidae­
Genus                         :  Zoothamnium
Spesies                       :  Zoothamnium sp.
Morfologi :  Hidup berkoloni dimana dalam satu tangkai terdapat beberapa individual yang hidup, berkontraksi dan pada bagian mulut terdapat cilia, berkembangbiak dengan cara pembelahan diri.
Organ sasaran            :   ~  Insang                            
~  Ekor                                                       
~  Carapace
Jenis Ikan yang diserang  :     ~  Kepiting Bakau      
                                                ~  Lobster
                                                ~  Udang Windu
Gejala klinis  : ~  Organisme yang diserang terlihat seperti hypoxia, letarghick, otot tubuh buram
~  Bagian dorsal abdomen sedikit membengkak
Pengendalian :            ~  Dicegah melalui tindak sanitasi yang ketat
                                     ~  Menghilangkan detritus seperti sisa kista artemia
                                     ~  Memberikan formalin 50 – 100 ppm selama 30 menit
Parasit Zoothamnium sp menyerang insang Kepiting Bakau Menurut Alifuddin (1993), bahwa parasit ini berbentuk seperti lonceng, peristomanya melebar dan berbentuk siakoidal mempunyai makro dan mikro necleus. Prasit ini membentuk koloni yang disusun pada tangkai (stalk) yang bercabang-cabang dan bersifat kontraktif. Parasit ini hidup sebagai epikommensal pada permukaan tubuh inang atau substrat lainnya, berkembangbiak dengan pembelahan yang menghasilkan ”telotroch” yang merupakan fase berenang bebas. Telotroch ini bersifat infectan sehingga dapat menimbulkan infeksi pada kepiting sehat. Penyerangan parasit ini ditandai dengan adanya perubahan warna Carapace menjadi kelihatan berlumut yang menutupi hampir semua bagian tubuh karena pengaruh bahan organik yang tinggi dan penebaran yang tinggi. Parasit ini membentuk koloni seperti bola-bola kesil bila menempel di insang dapat mengganggu pernafasan pada kepiting bakau, dan pada air yang kadar oksigennya rendah dapat menyebabkan kematian.
3.    Parasit Ascarophis sp
Gambar   Parasit Ascarophis sp ditemukan pada karapaks dan Insang Kepiting Bakau (Hasil Penelitian BBKIPM Makassar)
Klasifikasi :
                        Phylum                        :  Nemathelminthes
Class                           :  Nematode
Family                         :  Ascarididae
Genus                         : Ascarophis
Spesies                       :  Ascarophis sp.
Morfologi  :          Merupakan ektoparasit yang berukuran panjang dan kurusdengan segmen pada seluruh tubuhnya dan hidup bebas, ukuran panjang jantan 5 mm dan betina 8 mm.
Organ sasaran  :         ~  Insang
                                     ~  Carapace
 Jenis Ikan yang diserang           :       ~ Kepiting Bakau
                                                            ~ Lobster
                                                            ~ Ikan kerapu
Gejala klinis                 :  ~  Kondisi ikan lemah
Pengendalian              :  ~  Pemberian di-buthyl tm oxide 3 % perberat pakan
Parasit ini merupakan jenis Nematoda bentuknya tipis, tidak bersegmen karena bentuknya yang tidak seragam jadi parasit ini dapat dibedakan dari kelompok cacing lain dan merupakan species yang menyulitkan dalam perbedaannya.
Menurut Moller (1986) parasit ini bentuknya mirip cacing tetapi tanpa segmen, dan bentuknya yang sulit dibedakan antara mulut, oesphagus, usus, dan anus. Pada saat dewasa biasanya bersifat pathogen.
4. Parasit Chilodonella spp
Gambar  Parasit Chilodonella spp ditemukan pada Carapace dan insang Kpeiting Bakau  (Hasil Penelitian BBKIPM Makassar)
Klasifikasi :
Phylum                        :  Ciliophora
Subphylum                  :  Hypostomata
Class                           :  Kinegtofragminophorea
Ordo                            :  Cyrthoporida
Subordo                       :  Chlamydodontida
Family                          :  Chilodonellidae
Genus                           :  Chilodonella
Spesies                        :  Chilodonella  spp.
Morfologi  : Bentuk tubuh seperti hati berukuran 50 – 70 µm, berkembang   dengan pembelahan, memiliki flagella diseluruh tubuhnya, sehingga mempermudah pergerakkan (motil), berkembangbiak dengan cara pembelahan diri.
Organ sasaran  :         ~ Insang
                                    ~ Kaki Renang
                                    ~ Badan (lendir)
                                    ~ Kaki Jalan
                                    ~ Ekor
                                    ~ Carapace
Jenis Ikan yang diserang            :       ~ Kepiting Bakau
                                                            ~ Ikan air tawar dan air laut
                                                            ~ Lobster
Gejala klinis :  ~  Organisme yang diserang terlihat lemah dan tidak mau makan
~  Pendarahan dan terjadi kerusakan epitel insang   sehingga  sukar untuk bernapas
~  Iritasi dan hyperplasia epitel
~  Produksi lendir berlebihan                
Pengendalian : ~  Menjaga kualitas air
~  Melakukan disinfektan dengan pengapuran
~  Mengurangi padat penebaran
~ Pemberian Hijau Malachite Green 0,05 - 0,1  tanpa batas waktu
~  Pemberian formalin 150 - 250 ppm selama 30 menit
~  Pemberian CuSO4 500 ppm selama 1 menit

Parasit Chilidonella spp dari kelas Phyllopharyngeal memiliki bentuk bulat telur dengan bagian depan dan belakang rata, berukuran ± 33,6 – 47,6 µm. Memperbanyak diri dengan cara pembelahan longitudinal (Rukmono,1998). Ditambahkan pula oleh Alifuddin (1993) parasit Chilidonella spp bila dalam jumlah besar dapat merusak jaringan epitel.
5. Parasit Epistylis sp
Gambar   Parasit Epistylis sp ditemukan pada carapace dan Insang KepitingBakau (Scylla serrata) (sumber : Hasil Penelitian BBKIPM Makassar)


Klasifikasi :
Phylum                        :  Ciliophora
Subphylum                  :  Hypostomata
Class                           :  Oligomenophorea
Ordo                            :  Petrichs
Subordo                      :  Sessilina
Family                         :  Epistylilidae
Genus                         :  Epistylis
Spesies                       :  Epistylis  sp.
Morfologi :       Mempunyai flagella sehingga memudahkan dalam bergerak,       bentuk tubuh seperti lonceng, berukuran 51,00 ± 2,00 µm, membentuk koloni, tersusun pada tangkai-tangkai yang bercabang dimana satu tangkai terdapat satu individu  dan bersifat non-contrache, berkembangbiak dengan pembelahan diri.  Flagellanya ini terletak pada bagian mulut.
Organ sasaran :  ~  Insang                            
~  Kaki Renang
~  Badan
~  Kaki Jalan
~ Ekor
~  Carapace
Jenis Ikan yang diserang  :  ~  Kepiting Bakau
~  Lobster
Gejala klinis :  ~ Organisme yang diserang memperlihatkan gejala flashing menjelang sore hari
~  Insang berwarna merah kecoklatan
~  Sukar bernafas dan bergerak
~  Pertumbuhan lambat dan kerusakan pada epitel
Pengendalian :            ~ Memperhatikan mutu air
                                         ~ Pemberian Khloroquin difosfat 1,1 ppm (2 hari)                             diulang hingga 3 kali
                                         ~ Pemberian formalin 200 ppm selama 40 menit
                                         ~ Pemberian NaCl 30.000 ppm selama 5 – 10 menit
                                         ~ Pemberian Potassium dikhromat 5 ppm (16 jam)
Menurut Dana (1994) parasit ini membentuk koloni dan oleh pengamatan dengan mikroskop tampak seperti lonceng terbalik terletak pada tangkai (Stalk) membentuk koloni yang disusun pada tangkai yang bercabang-cabang dan bersifat ”non contrache”,  melekat pada insang dan Carapace sehingga menimbulkankerusakan. Parasit ini hidup sebagai epikommensal pada permukaan tubuh inang dan substrak lainnya, berkembangbiak dengan pembelahan. Parasit ini memiliki banyak kemiripan dengan parasit Zoothamnium sp sehingga terkadang sulit untuk membadakannya. Pada proses identifikasi di BBKIPM Makassar, yang menjadi patokan untuk membedakan kedua parasit ini selain memperhatikan morfologi, yaitu dengan memperhatikan gerakan parasit saat diamati dengan mikroskop.





6. Parasit Amyloodinium sp
Gambar Parasit Amyloodinium sp ditemukan pada carapace danInsang KepitingBakau (Scylla serrata) (Hasil Penelitian BBKIPM Makassar)
Klasifikasi      :
Phylum                        :  Protozoa
Subphylum                  :  Sarcomastigophora
Class                           :  Phytomastigophorea
Family                         :  Amyloodinium
Genus                         :  Amyloodinium
Spesies                       :  Amyloodinium sp
Morfologi:  Mempunyai flagella sehingga memudahkan dalam bergerak. Flagellanya ini terletak pada salah satu ujung tubuhnya yang lubang.  Bentuk tubuh bulat oval dengan diameter tubuh 150 – 350 µm. Merupakan ektoparasit yang menyerang kulit dan insang air laut.  Berkembangbiak dengan cara pembelahan diri, dapat hidup pada salinitas antara 3 – 70 ‰.
Organ sasaran :   ~  Insang
 ~  Badan (lendir badan)
Jenis Ikan yang diserang  :  ~ Kepiting Bakau          
~  Ikan kerapu
Gejala klinis     :   ~  Terjadi tumor mirip lesi pada kulit dan pseudobranch
~ Dapat menyebabkan kematian dalam beberapa hari, dengan tidak memperlihatkan tanda-tanda sakit dalam waktu yang lama
Pengendalian : ~  NaCl 35000 ppm pada wadah selama 5 – 15 menit
Parasit Amyloodinium sp berbentuk bola dengan ukuran tergantung jenisnya, menyerang Carapace dan insang kepiting, dapat menginfeksi sekunder oleh bakteri dan jamur (Rukmono, 1998).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil Praktik Kerja Lapang (PKL) yang dilakukan di Balai Besar Karantina Ikan, Pengandalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar tentang Identifikasi Parasit pada Kepiting Bakau (Scylla serrata) dapat disimpulkan :
·         Pemeriksaan parasit pada Kepiting Bakau(Scylla serrata) ada 2 yaitu pemeriksaan secara konvensional/makroskopis dan pemeriksaan secara laboratoris/mikroskopis.
·         Jenis  parasit yang menginfeksi Kepiting Bakau (Scylla serrata) selama mengikuti Praktik Kerja Lapang (PKL) yang diidentifikasi adalah Octolasmis muelleri, Octolasmissp, Zoothamnium sp, Ascarophis sp, Chilodonella spp, Epistylis sp dan  Amyloodinium sp.
Saran
Selama mengikuti Praktik Kerja Lapang (PKL) di Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar, penulis memberikan saran yaitu:
1.    Sebaiknya alat-alat yang sering digunakan memliki cadangan, jadi apabila alat mengalami kerusakan tidak lagi mengalami kesusahan dalam bekerja.
2.    Sarana dan prasarana lebih ditingkatkan lagi sehingga kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar.
Lampiran 1.




Gambar. Persiapan Alat dan Bahan










Gambar.PersiapanObjek glass (MeneteskanlarutanNaCl 0,9% padaslide glass   

Lampiran 2.
Persiapanobjek glass (MenuanglarutanNaCl 0,9% kecawan petri)

PersiapanSecaraKonvensional/ Visual (MengukurpanjangKepiting)
Lampiran 3.
Gambar. Pemeriksaan Secara Konvensional (Menimbang Contoh Uji)
GambarMematikanContoh Uji



Lampiran 4.
GambarMengkerokCarapaceluarKepiting

Gambar 22. MembedahContoh Uji

Lampiran 5.
Gambar 23.  Mengkerok Carapace dalam Kepiting
 








Gambar Meletakkan hasil kerokan pada slide glass

Lampiran 6.
Gambar25.MengambilInsangContoh Uji

Gambar26.MeletakkanInsangke objek glass (Cawan petri)


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Kepiting, (Online), (www.lintasberita.com/go, diakses 15 Januari    2011).

Prianto, E. 2007. Peran Kepiting Sebagai Spesies Kunci (Keystone Spesies) pada Ekosistem Mangrove. Prosiding Forum Perairan Umum Indonesia IV. Balai Riset Perikanan Perairan Umum. Banyuasin, (Blog.unsri.ac.id, diakses 15 Januari  2011).

Quinitio, E.T. & Parado, E.F.D. 2003. Biology and Hatchery of the Mud Crabs Scylla spp. Aquaculture Extension Manual, (Online), No. 34, SEAFDEC Aquaculture Department, Iloilo, Philippines, (Blog.unsri.ac.id, diakses 15 Januari  2011).
Shimek, R.L. 2008.Crabs, (Online), (Blog.unsri.ac.id, diakses 15 Januari  2011).
Aninim. 1993.  Persyaratan dan Prosedur Karantina Ikan. Departemen Pertanian.

Muliani,  Sulaeman dan medicali, M.I.1994. Warta Balitdita.Vol.1. Insidensi dan insentitas seragam teritip Octolasmis muelleri terhadap Kepiting Bakau. Badan Penelitian dan Pengembangan. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai. Maros.

Alifuddin,    M. 1993. Penyakit Protozoa  pada Ikan. Laboratorium Kesehatan Ikan jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan  IPB Bogor.

Rukmono.       1998. Berbagai Jenis Parasit Yang Menyerang Ikan. Hasil   Pemeriksaan  Laboratorium karantina Ikan Ngurah Rai. Denpasar.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar